• Jalan Pawiyatan Luhur I No.1, Semarang 50233 |
  • (024) 8317281 |
  • lldikti6@ristekdikti.go.id |

Menggubah Rebana Menjadi Musik Megah

Jika kita masih menganggap musik rebana adalah musik “ndeso”, sebaiknya lekaslah mencari tahu kapan UKM Rebana Nurul Asatidz (RNA) pentas. Tonton dan simaklah baik-baik. Tak sampai lagu usai, siapa pun bakal berubah pikiran. Di tangan awak pemain RNA, musik tradisi Islam ini menjelma komposisi musik dengan cita rasa modern dan kontemporer. Alunan musik rebana yang semula terkesan monoton berubah menjadi sangat variatif, dengan pelbagai campuran sentuhan alat musik elektrik, dari bass hingga keyboard.

Sebab itu wajar bila RNA baru-baru ini berhasil memanggul tropi juara umum dalam Festival Shalawat Jawa #2 Tingkat nasional Tahun 2019 yang diselenggarakan oleh MT Darul Hasyimi Yogyakarta, di Jogja, 26-27 Oktober 2019. Atas kemenangan tersebut RNA berhak membawa pulang Piala Bergilir Habib Luthfy Bin Yahya dan Piala Bergilir Sri Sultan hamengko Buwono KA X. RNA menyingkirkan 15 pesaingnya lewat dua tembang yang mereka bawakan, yaitu Sholawat Tasbih Hadiningrat dan Sholawat Ya Illahana, dengan aransemen musik yang lebih modern.

“Kami mengelaborasi antara unsur tradisi dengan berbagai unsur dari musik daerah lain, seperti unsur musik Aceh,” terang Irvan Mahendra, ketua Rebana Nurul Asatidz. Kolaborasi itu menghasilkan sajian musik yang tak monoton. Selain itu, basis musik yang biasa dibawakan RNA, yaitu rebana dengan citarasa modern, sangat cocok dengan kriteria yang diajukan panitia. Sehingga RNA bisa lebih mudah meraih puncak perlombaan.

Irvan menambahkan, salah satu keunggulan dari musik yang RNA bawakan ialah adanya sentuhan gamelan Jawa dalam aransemen musiknya. “Kami menambahkan gamelan slendro dan pelog agar sentuhan tradisi dan kearifan lokalnya tetap kuat,” tambah mahasiswa Prodi PPKn ini. Mereka mengaku karakter musik tersebut diperolah berkat terpengaruh band Tashoora dari Yogyakarta serta peran dari pelatih mereka yaitu Gus Aniq yang memberi banyak referensi musik. “Hasilnya, musik rebana yang kami buat jadi terkesan lebih megah,” tandasnya.

Menanggapi prestasi RNA, Rektor UPGRIS Dr Muhdi SH MHum menyambut gembira. Muhdi menegaskan jika hasil dari kreatifitas RNA akan mengubah persepsi orang tentang musik rebana. “Musik harus terus berkembang. Begitu pun dengan rebana. Tak boleh monoton dan terkesan ndeso. Harus ditambahi sentuhan dan modernisasi aransemen agar tak membosankan,” terang Muhdi.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram