• Jalan Pawiyatan Luhur I No.1, Semarang 50233 |
  • (024) 8317281 |
  • lldikti6@ristekdikti.go.id |

Televisi dan Disrupsi Media Baru

Perubahan tatanan di era pesatnya kemajuan teknologi informasi cukup mengguncang para pengelola media konvensional, tidak terkecuali Televisi.

Makin jauhnya kaum muda dari mencari berita serta informasi baik melalui media cetak, televisi, serta radio dan beralih ke media sosial misalnya instagram dll. Memunculkan berbagai kiat baru dalam menyebarkan berbagai informasi, termasuk hiburan serta penggabungan ke duanya .

Media konvensional pun harus berlomba dalam meraih akses masyarakat , utamanya dengan adanya kenyataan diversifikasi bentuk, tampilan, jenis, serta isi , oleh berbagai pesaing yang dengan pegiat media sosial , utamanya sebelum berbagai regulasi akan mengaturnya kelak.

Bagi masyarakat selaku penerima sajian informasi serta hiburan sering terjebak oleh banyaknya informasi serta hiburan sesat atau setidaknya kurang sehat , karena berbagai  hal tersebut mereka terima dari medsos baik jaringan pribadi, group ataupun portal serta situs yg kurang jelas penanggung jawabnya .

Namun, sekarang ini banyak juga medsos atau pun portal berita serta berbagai sajian youtube yang jelas penanggungjawabnya. Berbagai media konvensional pun telah mengintegrasikan berbagai sajiannya dengan medsos , dengan harapan kaum milenial mengaksesnya , selain mereka juga membuat sajian-sajian khusus baik berupa media on-line  atau  pun youtube .

Berbagai aplikasi pun makin berkembang pesat, bahkan menjadikan para foundernya menjadi miliyarder, bahkan triliuner baru.

Pertanyaannya, dengan kenyataan tersebut akan makin ditinggalkan bahkan  dilupakankan media konvensional?, Serta bagaimana sebaiknya ke depan, sehingga ke duanya tetap bersinergi dan masyarakat menerima informasi serta hiburan yang bermanfaat?

Simbiose

Kalau kita cermati sebenarnya pesatnya popularitas serta pemanfaatan berbagai portal, situs ataupun aplikasi medsos adalah juga atas media konvensional, utamanya televisi.

Kita ingat bagaimana misalnya televisi menyajikan tayangan viral, trending topic, dan sejenisnya, yang sebenarnya simbiosis mutualistis dengan medsos. Demikian juga dengan iklan aplikasi bisnis seperi Gojek, Grab, Buka Lapak, bahkan yg sedang getol-getolnya Ruang Guru, dll.

Di sisi lain banyak juga pengelola portal YouTube misalnya yang makin jelas identitas, termasuk kapasitas serta kapabilitasnya, sebut saja misal tayangan youtube Shihab &Shihab , Mediatama.Com, dll.

Intinya, sebenarnya perlu mensinergikan ke duanya, sebab melalui cara itu ke duanya saling teruntungkan. Di sisi lain cara itu akan menjadi ajang seleksi alam terhadap situs atau portal bahkan mungkin aplikasi abal-abal , yang akhirnya masyarakat luaslah yang akan diuntungkan.

Penulis : Drs. Gunawan Witjaksana, M.Si , Dosen dan ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM)  Semarang.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram