• Jalan Pawiyatan Luhur I No.1, Semarang 50233 |
  • (024) 8317281 |
  • lldikti6@ristekdikti.go.id |

Menemukan Keseimbangan di Era Disruptif

Melihat video-video di sebuah kanal Youtube salah satu pemain lama di dunia taksi, tampak terlihat bahwa dunia bisnis bergerak dinamis dan menemukan titik keseimbangannya. Hal ini sama seperti yang terjadi di tengah hiruk-pikuk bisnistaksibeberapa tahun terakhir ini. Melihat geliat Blue Bird yang baru saja meluncurkan taksi listrik BYD e6 dan Tesla model X 75D, perusahaan ini tampaknya bisa bertahan dengan baik meskipun awalnya kesulitan menghadapi era disrupsi.

Investasinya dalam jumlah besar untuk kendaraan-kendaraan yang tidak umum dimiliki oleh pribadi-pribadi yang menjadi mitra pengemudi taksi online pesaingnya, membuat posisitaksi ini bisa berbeda secara signifikan dibandingkan sebelumnya. Usaha tersebut dapat dipandang menjadi gerakan lanjutan dari beberapa inovasi digital dalam aplikasi dan pemasaran yang telah diusahakan oleh perusahaan ini sebelumnya,untuk mengejar ketinggalan di era disrupsi dalam dua tahun terakhir ini.

Seperti yang diilustrasikan di dalam salah satu videonya di Youtube, sebagai pemain lama ia merasa bagaikan kapal besar yang tidak mungkin berbelok dengan lincah namun memiliki kelebihan terkait pengalaman yang lebih lama dalam dunia taksi dan konsumennya. Meskipun menyatakan keinginannya untuk kembali belajar dengan dunia yang baru, pemain lama tidak harus bergerak mengambil langkah yang sama seperti pesaingnya. Justru melalui kelebihannya yang telah dimiliki pada masa sebelumnya, perusahaan ini bisa mengembalikan bisnisnya ke jalur yang sesuai di jaman yang baru.

Sekian lama malang melintang di dunia taksi, BlueBird masih memliki kelebihan yang belum sirna dari ingatan pelanggannya, terutama dalam hal kenyamanan, keamanan penumpang, dan sistem pengelolaan SDM yang lebih matang. Kepercayaan dan loyalitas pelanggan yang masih ada di dalam benak konsumen bisa mengembalikan posisinyake semesta yang baru.

Hal ini akan semakin didukung jika sistem tarif taksi jenis initidak sama persis dengan taksi online yang ada saat ini, dimana tarif tidak otomatis meningkat dan menjadi lebih mahal ketika hujan tiba, atau pada saat lalu lintas menjadi padat, atau ketika jumlah armada tersedia semakin menipis. Selama ini, ketiga kondisi tersebut dirasakan seringkali meningkatkan biaya pada saat konsumen memesan taksi online melalui gadget-nya.

Penggunan argo ataupun fitur tarif tetap yang dihitung berdasarkan jarak tempuh saja, akan menjadi keunggulan komparatif dibandingkan bisnis taksi online pesaingnya. Jika rumusan tersebut tetap dijaga,taksi sejenis ini akan menjadi pilihan favorit bagi pelanggan yang mulai merasakan kelemahan sistem tarif online pada umumnya.

Di lain pihak, ketika para pemain bisnis baru yang menunggangi gelombang disrupsi mulai terlena dan menghabiskan suntikan dana yang besar dari perusahaan-perusahaan raksasa berskala dunia untuk kepentingan pemasaran dan promosi semata, maka pemain lama justru dapat memperkuat kenyamanan armadanya yang secara model bisnis berada di luar wilayah kekuasaan para pengusaha taksi online. Mereka harus menjadikan hal tersebut sebagai keunggulan komparatif berikutnya sehingga membuat langkahnya tidak dapat ditiru oleh pesaingnya.

Inovasi disruptif yang dilakukan oleh pemain-pemain baru menjadikannya bukan lagi ancaman yang mematikan ataupun tidak bisa dilawan oleh pemain-pemain lama. Narasi kekalahan pemain lama memang bisa terjadi ketika mereka tidak bisa beradaptasi sekaligus menemukan kelemahan dalam model bisnis yang sedang dijalankan pemain baru.

Seperti kita ketahui sebelumnya, salah satu DNA inovasi disruptif yang disebut sebagai “sharing economy“ atau partisipasi bersama dalam kegiatan ekonomi, telah menjadi cara baru dalam pengembangan bisnis secara cepat dengan melibatkan kepemilikan aset mitranya sebagai bagian dari pembagian keuntungan. Namun model ini juga memiliki kelemahan dalam hal kapasitas partisipasi yang sanggup dipikul oleh masing-masing mitra.

Namun kekuatan modal pemain lama juga bukan kunci satu-satunya untuk membawanya kembali ke persaingan bisnis di era yang baru. Kombinasi dengan kelebihan-kelebihan lainnya dapat menjadi kekuatan untuk mendapatkan posisinya kembali.

Sebagai contoh, standar pengelolaan sumber daya manusia yang diterapkan oleh BlueBird terhadap para pengemudinya selama ini justru dirasakan menjadi kelebihan yang dibutuhkan pada saat sekarang ini. Banyaknya laporan atas sikap mitra-mitrapengemudi taksi online kepada pelanggan, menjadikan pengelolaan sumber daya manusia menjadi hal yang penting bagi pelanggan taksi untuk dijamin hak-haknya sebagai konsumen.

Perbedaan model hubungan kepegawaian antara taksi konvensional dengan para pengemudinya dan perusahaan taksi online dengan mitra pengemudinya memang membuat berbeda pula kekuatan dan kontrol perusahaan terhadap standar perlakuan kepada konsumen. Apabila perusahaan taksi online tidak dapat menemukan solusi atas kelemahan ini, tentunya kelebihan komparatif atas jaminan hak-hak konsumen menjadi milik pemain lama.

Valuasi perusahaan yang sebelumnya menjadi showcase keberhasilan para pemain bisnis yang baru, dimungkinkan tidak lagi menyilaukan mata investor. Asset dan laba perusahaan akan kembali menjadi bagian yang penting dalam pengambilan keputusan. Valuasi perusahaan yang besar tidak lagi menarik ketika perusahaan belum bisa menghasilkan laba. Sebaliknya ketika valuasi perusahaan terbilang lebih kecil dari pemain baru namun perusahaan memiliki asset dan laba yang dihasilkan ternyata lebih besar dan lebih stabil, maka dapat menarik minat pemilik dana jika dibutuhkan perusahaan untuk memperbesar skala bisnis.

Analisa atas inovasi dan kelebihan komparatif yang dieksplorasi pada Blue Bird hanya merupakan salah satu contoh bahwa pemain-pemain baru dengan cara-cara bisnis baru tidak harus dihindari ataupun dilawan dengan regulasi maupun tekanan. Masing-masing inovasi memiliki kelemahan yang dapat dilawan dengan inovasi lainnya dimana menjadi kekuatan bisnis pemain lama. Bagi dunia bisnis yang lain, dimungkinkan berlaku hal yang sama. Asalkan terus bergerak, beradaptasi, keluar dari zona nyaman, dan mencari kekuatan yang bisa dikembangkan, maka bisnis lama bisa saja terus bertahan.

Penulis : Prof. Dr. Ridwan Sanjaya (Rektor Unika Soegijapranata)

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul OPINI Ridwan Sanjaya : Menemukan Keseimbangan di Era Disruptif, tanggal 18 Mei 2019

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram